BERSATU AMANAH TAAT SETIA

BERSATU AMANAH TAAT SETIA

BROTHER PAQ BK MERGONG PUTRAJAYA

BROTHER PAQ BK MERGONG PUTRAJAYA

EMPUNYA BLOG

BROTHER PAQ(BK) MERGONG PUTRAJAYA.















BROTHER PAQ BK DON JUAN .















EMAIL:paqbkputra7@gmail.com.my















PAQ(BK)MERGONG PUTRAJAYA

PAQ(BK)MERGONG PUTRAJAYA

FACEBOOK : paqmergong

my space :paq mergong putrajaya







google blog: paqmergong-brotherpaqbk.blogspot.com.my/







KEKANDA PAQ (BK) MERGONG PUTRA7 ( PUTRAJAYA) :







Benarkah Doa Berbuka Puasa Yang Selalu Kita Baca Adalah Dhoief ?


Kami mendapat maklumat di dalam facebook ada yang beranggapan bahawa Doa Berbuka Puasa yang dibaca oleh umat Islam pada setiap hari di Bulan Ramadhan datangnya dari hadith dhoief sebagaimana dakwaan di bawah :
TELA’AH RIWAYAT HADITS “DO’A IFTHAR”

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ و بك أمنت وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ برحمتك يا أرحم الراحمين

TIDAK ADA HADITSNYA !
Dalam Kitab "Mirqatul Mafatih" dinyatakan:

وأما ما اشتهر على الألسنة اللهم لك صمت [ وبك آمنت ] وعلى رزقك أفطرت فزيادة وبك آمنت لا أصل لها ، وإن كان معناها صحيحاً ، وكذا زيادة وعليك توكلت ولصوم غد نويت بل النية باللسان من البدعة الحسنة .
مرقاة المفاتيح ج 4 ص 426

"...Adapun do'a yang populer dengan tambahan WA BIKA AMANTU... tidak ada asalnya walaupun maknanya baik. (IV:426)

DO'A BUKA PUASA YG DLO'IF
Ditulis oleh : Al Ustadz ‘Abdul Hakim ‘Abdat

Di bawah ini akan saya turunkan beberapa hadits tentang dzikir atau do’a di waktu berbuka puasa, kemudian akan saya terangkan satu persatu derajadnya sekalian. Maka, apa-apa yang telah saya lemahkan (secara ilmu hadits) tidak boleh dipakai atau diamalkan lagi, dan mana yang telah saya nyatakan syah (shahih atau hasan) bolehlah saudara-saudara amalkan. Kemudian saya iringi dengan tambahan keterangan tentang kelemahan beberapa hadits lemah tentang keutamaan puasa yang sering dibacakan di mimbar-mimbar khususnya di bulan Ramadhan.


HADITS PERTAMA

Artinya :

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).

(Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir).

Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif
Pertama :
Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang sangat lemah.
Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo’if
Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta)
Kata Imam Ibnu Hibban : pemalsu hadits
Kata Imam Dzahabi : di dituduh pemalsu hadits
Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya)
Kata Imam Sa’dy : Dajjal, pendusta.

Kedua :
Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata : munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.

Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al-Albani, dll.

Periksalah kitab-kitab berikut :
Mizanul I’tidal 2/666
Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami
Zaadul Ma’ad di kitab Shiam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim
Irwaul Gholil 4/36-39 oleh Muhaddist Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

HADITS KEDUA

Artinya :

“Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillah, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).

(Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).

Sanad hadits ini Lemah/Dlo’if

Pertama :
Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah.
Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.
Kata Imam Ibnu ‘Ady : Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh diturut.
Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !
Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).

Kedua :
Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.
Kata Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.
Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
Kata Imam Ibnu ‘Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)
Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di Risalah Puasa tapi beliau diam tentang derajad hadits ini ?


HADITS KETIGA

Artinya :
“Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa ‘Alaa Rizqika Aftartu.”

(Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni) Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke 2 kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)

Dan sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.

Pertama :
“MURSAL, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (hadits Mursal adalah : seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa perantara shahabat).

Kedua :
“Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang MAJHUL. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya”.


HADITS KEEMPAT

Artinya :

“Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :

ذَهَبَ الظَمَأُ، وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ، وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH (artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).

(Hadits HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa’i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239) Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Daruquthni.!

Saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) berpandangan : Rawi-rawi dalam sanad hadits ini semuanya kepercayaan (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau dikatakan hadits ini HASAN.


KESIMPULAN

Maka dari penjelasan al ustadz ‘Abdul Hakim ‘Abdat di atas, maka doa berbuka puasa yang benar adalah DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH (artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa Allah).

Doa berbuka puasa yang diambil dari hadits yang ke 1,2 dan 3 karena tidak syah (sangat dloif dan dloif) maka tidak boleh lagi diamalkan.

Sedangkan hadits yang ke 4 karena riwayatnya telah syah maka bolehlah kita amalkan jika kita suka (karena hukumnya sunnat saja).

***
Ditulis ulang dari milis As Sunnah online tanggal 03 Maret 2000




DADAH JENIS SYABU


Hukum Penyalahgunaan Dadah Jenis Syabu Dan Jenis-Jenis Dadah Baru Yang Lain


Keputusan:
Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-76 yang bersidang pada 21 - 23 Nov 2006 telah membincangkan Hukum Penyalahgunaan Dadah Jenis Syabu Dan Jenis-Jenis Dadah Baru Yang Lain. Muzakarah telah memutuskan bahawa dadah jenis syabu dan dadah-dadah jenis baru yang lain mempunyai kesan mudharat yang sama seperti ecstasy, katamine dan Gamma Hyroxybutyric Acid (GHB).


Oleh itu, penyalahgunaan dadah jenis syabu dan dadah-dadah jenis baru yang lain adalah haram dan semua aktiviti yang berkaitan dengan penyalahgunaan dadah ini seperti menanam, memproses, memiliki, menjual, mengedar, membeli atau membenarkan premis digunakan untuk bersubahat dengan penggunaannya adalah juga diharamkan.
Keputusan (English):
The Ruling On Syabu (Solidified Form Of Powdered Methylamphetamine) Abuse Or Other New Recreational Drugs

Discussion:
The 76th Muzakarah (Conference) of the Fatwa Committee National Council of Islamic Religious Affairs Malaysia held on 21st-23rd November 2006 has discussed the ruling on syabu (solidified form of powdered methylamphetamine) abuse or other new drugs. The Committee has decided that syabu and any new drugs that has similar effects and harm with drugs such as ecstasy, katamine and gamma hytroxybutyric acid (GHB).
Thus, new drug or syabu abuse is forbidden and any related activities such as planting, processing, owning, selling, distributing, buying and permitting premises to be used in such activities are also prohibited.

Keterangan/Hujah:
1.Nama saintifik bagi syabu ialah amphetamine sejenis dadah dari amphetamine type stimulant iaitu dadah jenis stimulant (perangsang). Pada amnya di negara ini amphetamine hanya diluluskan untuk sejenis penyakit kanak-kanak yang terlalu aktif dan kurang daya tumpuan dikenali sebagai ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder).

2.Di Malaysia, syabu mula digunakan secara berleluasa kira-kira dua tiga tahun yang lalu berikutan kesukaran mendapatkan bekalan heroin.

3.Syabu boleh menyebabkan ketagihan dan memudharatkan kerana ia adalah sejenis bahan kimia psikoaktif yang mempunyai kesan paling ketara ke atas sistem saraf (otak dan saraf tunjang) yang menyebabkan keadaan mabuk, khayal, ketagih, gangguan tingkahlaku dan sebagainya. Kesan pengambilan syabu menyebabkan sakit emosi dan menyebabkan otak menjadi lembab, kemurungan dan boleh membawa kepada sakit jiwa yang teruk jika diambil berpanjangan.

4.Dadah jenis syabu mempunyai kesan mudarat yang sama seperti ecstasy, katamine dan Gamma Hyroxybutyric Acid (GHB). Pengambilan dadah jenis ecstasy dilaporkan paling banyak digunakan khususnya oleh para remaja yang mengunjungi ‘night club’, disko, karaoke atau tempat-tempat hiburan.

5.Abu Sari’ Muhammad Abdul Hadi berpandangan bahawa Hasyisy (ganja) dan opium, dua jenis dadah daripada daun yang boleh menyebabkan ketagihan dan khayal dan tahap merbahaya bahan kimia ini adalah melebihi arak. Justeru kedua-duanya perlu diketegorikan sebagai haram sama seperti arak.

6.Dr. Yusuf al-Qaradhawiy di dalam kitabnya “Halal dan Haram Dalam Islam” menyatakan “Hasyisy adalah bahan yang haram, baik orang yang mengambilnya mabuk ataupun tidak, Hasyisy ini hanya dipakai oleh orang-orang yang jahat kerana di dalamnya ada unsur-unsur yang memabukkan dan menyeronokkan malah sering dicampur dengan arak.”

7.Menurut Dr. Wahbah al-Zuhaily lagi pengharaman arak atau seumpamanya bukan sekadar meminumnya atau mengambilnya bahkan termasuk memilikinya atas apa juga alasan, menjual, membeli menghadiahkan dan sebagainya adalah tertakluk dalam hukum yang sama.

8.Isu ini adalah jelas dari segi kemudaratan yang dialami dan hukum Islam yang telah ditentukan. Walaupun pelbagai nama digunakan, namun sekiranya ia masih dalam konteks memudharatkan, hukumnya tetap haram.
WALLAHUALAM....

BERUNTUNG LAH ORANG YANG MEMBACA AL-QURAN.


Al-Quran ialah Kitabullah yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia juga menjelaskan persoalan tentang akhir kehidupan manusia, situasi terakhir yang akan dirasai oleh manusia sebelum bumi ini dihancurkan oleh Allah untuk bermulanya hari qiamat dan nasib tiap-tiap insan sama ada ke surga atau ke neraka.

Terlampau banyak faedah membaca al Quraan untuk keselamatan, kebahagiaan, perlindungan dunia dan akhirat sebagaimana yang dijanjikan Allah swt. Jika hendak dihuraikan di ruang yang terhad ini agaklah sukar kerana teramat banyaknya. Di sini saya ringkaskan dari beberapa petikan quraan dan hadis tentang faedah2 membaca al quraan. Di antaranya:

1. Satu huruf yang dibaca diberi satu kebaikan dan setiap kebaikan akan dilipatkan gandakan sepuluh,

2. Mendapat tempat istimewa diakhirat dengan lebih baik bacaan/tartil lebih tinggi kedudukannya.

3. Ibadat yang paling mulia di antara ibadat.

4. Dapat menghidar dari hati menjadi berkarat

5. Rumahnya dikunjungi malaikat dan banyak kebaikannya. Syaitan menjauhi rumah tersebut

6. Pembaca al quraan disayangi Allah swt dan Rasul saw

7. Allah memuji pembaca alquraan di hadapan malaikat

8. Allah swt menghujani rahmat ke atas pembaca al quraan

9. Mententeram jiwa yang resah

10. Al quraan menemani pembacanya di dalam kubur dari siksaan Mungkar dan Nangkir serta mengatur untuk simati dpd malaikat dari syurga tempat tidur dari syurga yg dipenuhi bauan kesturi

11. Rasulullah swt bersabda: "dihari pengadilan, di hadapan Allah swt , tiada syafaat yg lebih baik darjatnya dari al Quraan, mahupun dari nabi atau malaikat".

12. Dapat membina akhlak yang baik

13. Rasulullah saw bersabda: "Bacalah oleh kamu al-Quran, sesungguhnya (al-Quran) itu datang pada hari kiamat menjadi syafaat kepada pembacanya." (Hadis riwayat Muslim)

14. Rugi bagi orang yang kurang gemar membaca al-Quran kerana Rasulullah banyak menyebut dalam hadis faedah dan fadilat membaca al-Quran.

15. Pembaca al-Quran dinaungi dengan payung rahmat. Dikelilingi malaikat dan diturunkan Allah kepadanya ketenangan dan kewaspadaan.

16. Pembaca al-Quran dikurniakan hatinya dengan cahaya oleh Allah dan dipelihara-Nya daripada kegelapan.
17. Pembaca al-Quran, hatinya tidak gundah dan terlepas daripada kesusahan pada hari kiamat. Hal ini kerana dia sentiasa dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah.

18. Rahmat membaca turut diberi kepada ibubapanya pada hari kiamat dengan mahkota yang bercahaya.

19. Mendapat kedudukan yang tinggi disyurga mengikut tartil.

PENGGUNAAN NAMA ALLAH OLEH AGAMA-AGAMA LAIN

PENGGUNAAN NAMA ALLAH OLEH AGAMA-AGAMA LAIN



Sehingga Mac 2009 polimik penggunaan nama Allah berterusan di Malaysia apabila Gereja Kristian di Malaysia mahu menggunakan nama tersebut dalam penerbitan mereka di atas dakwaan kebebasan beragama yang dijamin oleh perlembagaan. Dalam konteks Malaysia, Islam sebagai agama rasmi di negara ini, telah mempunyai beberapa peraturan untuk menjaga kesucian agama Islam dan ia dijamin juga oleh perlembagaan. Bahkan di negeri-negeri, Raja-Raja Melayu memiliki kekuasaan untuk menjaga isu-isu agama termasuklah hak esklusif penggunaan nama Allah untuk agama Islam.

Perdebatan berkenaan dengan penggunaan nama Allah oleh agama lain mengundang dua pandangan berbeza di kalangan umat Islam samada di kalangan ahli agama, mahupun masyarakat awam.

Terdapat golongan memandang nama ‘Allah’ sememangnya digunakan oleh al-Quran untuk menceritakan bagaimana kepercayaan umat-umat terdahulu. Sebagai contoh, dalam surah Luqman, ayat 25. Allah SWT bermaksud:


Sekiranya kamu bertanya mereka (orang-orang kafir), siapakah yang menjadikan langit-langit dan bumi, nescaya mereka mengatakan Allah. Katakan (wahai Muhammad): Segala puji bagi Allah. Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui.


Demikian juga dalam surah al-Ankabut, ayat 61, Allah SWT berfirman bermaksud:

Dan sekiranya kamu bertanya mereka siapakah yang menjadikan langit-langit dan bumi dan yang mengaturkan matahari dan bulan, nescaya mereka mengatakan Allah. Justeru kenapakan mereka berpaling (dari) mentauhidkan Allah?


Golongan ini mengatakan bahawa al-Quran sendiri menyebut bahawa masyarakat bukan Islam menggunakan istilah ‘Allah’ untuk tuhan.

Pada saya, ada beberapa perkara yang perlu diteliti dalam memperbahaskan isu penggunaan nama Allah.

Pertamanya,

kitab-kitab agama-agama langit terdahulu tidak diturunkan dalam bahasa Arab, justeru tidak timbul langsung penggunaan istilah ‘Allah’ untuk agama-agama langit seperti ‘Yahudi’ dan ‘Kristian’. Al-Quran kemudiannya menjelaskan bahawa konsep tauhid agama tersebut yang asal ialah kepercayaan kepada Allah SWT walaupun telah diselewengkan oleh para pendeta dan paderi. Hakikat bahawa kitab-kitab Yahudi dan Kristian bukan berbahasa Arab iaitu taurat dan injil (bible), keduanya tidak menggunakan nama ‘Allah’ untuk merujuk tuhan mereka. Sebaliknya Islam tidak pernah menggunakan istilah yang mereka gunakan terhadap Allah sebagai nama kepada tuhan di dalam ajaran Islam.

Keduanya,

ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Contohnya, ayat 23 dan 24 Surah Luqman menceritakan orang-orang yang kufur terhadap Allah SWT dan mereka ditimpakan dengan azab yang pedih. Justeru, di kalangan mereka yang kufur (menyembah selain dari Allah SWT), jauh di sudut hati mereka mengakui adanya tuhan yang esa yang menjadikan langit dan bumi. Ini tidak menandakan orang-orang kafir menggunakan lafaz Allah dan menyembah Allah sebagai tuhan mereka.

Demikian juga dalam surah al-Ankabut, ayat sebelumnya menceritakan rahmat Allah.
Sekiranya ditanya kepada orang-orang kafir siapakah tuhan mereka, nescaya mereka akan mengatakan Allah. Namun mereka tetap berpaling. Iaitu mereka masih berpaling dengan tidak meyembah Allah SWT
.
Justeru, ayat ini tidak boleh digunakan untuk menunjukkan tuhan mereka ialah Allah SWT.


Ketiganya,

kemungkinan ada pandangan mengatakan ‘orang-orang Arab Jahiliyah’ menggunakan perkataan ‘Allah’ untuk merujuk kepada ‘tuhan’. Benarkah begitu? Sebaliknya orang-orang Arab sebelumnya banyak menggunakan perkataan ‘ilah’ untuk merujuk kepada tuhan, contohnya ilah latta dan ilah al-uzza.

Sebaliknya, al-Quran datang menggunakan perkataan ‘Allah’ dan bukan perkataan ‘ilah’ bersama penafian Allah itu mempunyai anak, dan penafian Dia mempunya pembantu yang terdiri dari ilah-ilah yang lain sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Mukminun, ayat 91 yang bermaksud:

Dan tidaklah Allah mempunyai anak, dan tidaklah bersamanya tuhan yang lain (sebagai pembantu). Oleh itu, sekiranya setiap tuhan memutuskan keputusannya sendiri, nescaya sesetengahnya di atas sesetengah yang lain (menguasai yang lain), mahasuci Allah daripada apa yang mereka sifatkan.


Keempatnya, umat Islam perlu mempertahankan penggunaan nama ‘Allah’ hanya untuk orang-orang Islam kerana beberapa sebab, antaranya:

i. Antaranya penggunaan perkataan ‘Allah’ telah melalui proses penyucian dari segala kesyirikan yang muncul dari zaman selepas nabi-nabi sebelumnya sehingga hari ini sehingga diiktiraf sebagai tuhan orang-orang Islam. Sila lihat kamus-kamus moden bagi membuktikan perkara ini. Justeru itu, membenarkan penggunaan istilah itu kepada bukan Islam adalah satu tindakan ke belakang untuk kembali ke zaman penggunaan nama Allah yang dipenuhi kesyirikan. Sekaligus, ia mengenepikan usaha al-Quran yang berulang kali menafikan sifat-sifat kesyirikan (mempunyai anak dan pembantu-pembantu) yang ada pada zat Allah SWT.

ii. Berpegang pada pandangan bahawa dalam al-Quran menyebut orang-orang kafir menggunakan penggunaan nama Allah, adalah pandangan yang cetek. Tidakkah mereka membaca bersama bahawa al-Quran berulang-kali mensucikan nama ‘Allah’ dari bersifat dengan sifat kelemahan.

iii. Kalau benarpun, ada penggunaan ‘Allah’ sebelum Islam, ia adalah nama umum, yang kemudiannya menjadi nama khusus untuk tuhan orang-orang Islam setelah melalui proses mensucikan nama Allah SWT dari segala sekutu yang tidak layak untuknya.


Semoga membantu kita memahami kepentingan isu ini. Untuk tidak mengulang perbahasan lanjut, saya suka juga merujuk kepada artikel di bawah yang boleh dijadikan rujukan dalam isu ini.

Sekian, wallahu a’lam.

Dr Asmadi
4 Mac 2009


Isu Nama Allah: Persoalan Aqidah Bukan Perebutan Nama
Khalif Muammar*

Isu Herald Tribune telah mengundang reaksi pelbagai pihak sejak awal tahun ini. Setelah Kementerian Dalam Negeri memutuskan untuk melarang penggunaan nama Allah oleh surat khabar tersebut, Dewan Ulama Pas (Harakah, 1 Januari 2008) menyatakan Islam tidak melarang penganut agama lain menggunakan kalimat Allah bagi Tuhan mereka. Sebagai reaksi saya juga telah membahas isu ini dalam artikel yang diterbitkan dalam laman web khairaummah. com pada 20 Januari 2008 dengan harapan ia dapat membantu umat Islam di negara ini memahami persoalan yang sebenar.

Namun isu ini ternyata menjadi hangat kembali apabila Mufti Perlis, Dr. Asri Zainul Abidin, menulis dalam Mingguan Malaysia pada 27 April 2008 bahawa Umat Islam tidak perlu berebut nama Allah dengan penganut Katolik. Mereka berhak menamakan Tuhan mereka dengan nama Allah kerana dalam al-Qur'an pun kaum Musyrikin menggunakan nama Allah. Mufti juga menegaskan bahawa yang menjadi permasalahan adalah bukan nama Tuhan tetapi kesyirikan penganutnya. Saya terpanggil untuk memberi tanggapan kerana hal ini akan mengundang kekeliruan jika tidak diperjelaskan dengan tuntas.

Yang paling penting kita perlu jelas bahawa nama Allah telah menjadi nama khas bagi Tuhan umat Islam. Perlu dibezakan antara kalimat Allah dari sudut bahasa yang telah wujud sejak zaman Jahiliyyah dengan kalimat Allah yang telah diIslamkan setelah menjadi istilah atau nama khas. Jika kita perhatikan kalimat tawhid: la ilaha illa Allah. Ia tidak bermakna tiada tuhan melainkan Tuhan, tetapi tiada tuhan melainkan Allah. Kerana jika ia bermakna tiada tuhan melainkan Tuhan maka tidak ada maknanya seseorang mengucapkan kalimat tawhid itu. Oleh kerana itu sarjana-sarjana Islam tidak bersetuju untuk menggantikan Allah dengan God dalam bahasa Inggeris. Pengislaman nama Allah ini juga jelas apabila kita lihat surah al-Ikhlas, antara surah terpenting dalam al-Qur'an, yang menjelaskan siapakah Allah dan apakah sifat-sifatnya:
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia"."(al-Ikhlas: 1-4).
Berdasarkan Surah dia atas, sebagai orang Islam kita mesti yakin bahawa yang bernama Allah adalah yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Dalam erti kata lain kita tidak mengakui bahawa yang tidak mempunyai sifat-sifat tersebut juga adalah Allah.

Seperti yang dinyatakan oleh Dr. Asri memang masyarakat Jahiliyyah menggunakan nama Allah, tetapi nama Allah di situ digunakan dari sudut bahasa sahaja dan sebelum perkataan itu diIslamisasikan. Ia kemudian menjadi nama khusus yang merujuk kepada sifat-sifat di atas. Kata-kata solat, contohnya, dari segi bahasa adalah doa dan telah digunakan oleh orang Arab sejak pra-Islam lagi, ia kemudian menjadi istilah yang merujuk khusus kepada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w. Oleh itu kita tidak boleh mengatakan orang Katolik juga melakukan solat hanya kerana mereka berdoa di gereja.

Umat Islam perlu melihat apa yang berlaku di sebalik persoalan nama Allah ini. Jika kita lihat dengan teliti isu ini dengan isu-isu yang sebelumnya kita akan dapat melihat hubungannya. Contohnya isu pluralisme agama yang giat dipromosikan oleh orang bukan Islam dan sebahagian orang Islam sendiri iaitu Islam Liberal. Para pendukung pluralisme agama ini berusaha untuk mendangkalkan makna-makna atau kata kunci dalam agama. Mereka mengatakan bahawa Tuhan dalam agama manapun pada peringkat tertinggi (transcendental) adalah sama. Bagi umat Islam, konsep Tuhan kita jauh berbeza dengan konsep Tuhan dalam agama mana pun. Pendukung pluralisme agama juga menekankan wujudnya persamaan antara agama-agama dan perbezaan perlu diketepikan untuk kebaikan bersama. Padahal bagi kita perbezaan fundamental antara Islam dengan agama lain walaupun sedikit adalah sangat penting dan tidak boleh dipinggirkan. Sebahagian orang bukan Islam bahkan mengaku telah Islam tanpa perlu masuk Islam. Kerana mereka merasa telah 'berserah diri' kepada Tuhan. Di sini mereka merujuk perkataan Islam dari sudut bahasa ialah berserah diri. Jika Allah hanya bermakna Tuhan maka kini mereka akan mendakwa bahawa mereka juga telah beriman kepada Allah. Padahal mereka hanya percaya pada Tuhan.

Contohnya lagi kita tidak boleh menggunakan kata 'liberal' untuk makna terbuka kerana ia memberi konotasi yang dalam. Kita pun tidak akan mengatakan bahawa mereka telah memonopoli perkataan liberal. Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah sarjana Islam yang paling tegas dalam hal pemberian nama atau istilah ini. Bagi beliau banyak kekeliruan berpunca daripada penamaan. Contohnya pelajaran berbeza dengan pendidikan dan ta'dib. Istilah moden dan klasik dalam pembahagian sejarah bagi beliau tidak relevan dengan sejarah Islam dan lain-lain lagi.

Sebenarnya tidak ada nas sorih dan qat'i dalam persoalan ini. Nas dan dalil yang dikemukakan oleh Dr. Asri hanya menunjukkan bahawa masyarakat Jahiliyyah telah menggunakan kalimat Allah untuk merujuk kepada Tuhan mereka. Kita perlu melihat ayat-ayat dan hadis-hadis seumpamanya dalam konteks penggunaannya dari sudut bahasa. Dari sudut bahasa Allah bermakna Tuhan. Ayat-ayat tersebut turun ketika Islam mula diperkenalkan sebagai proses berdialog dengan kaum musyrikin. Setelah konsep-konsep penting dalam Islam jelas dan worldview Islam terbentuk maka di sini proses Islamisasi berlaku baik terhadap bahasa, budaya dan pemikiran masyarakat Arab. Oleh kerana itu dengan mendangkalkan makna Allah maka kita telah menafikan proses Islamisasi tersebut dan kembali seolah-olah Islam belum bertapak. Memang kita boleh membuat kesimpulan tidak menjadi masalah orang bukan Islam menggunakan nama Allah kerana hal tersebut "tampak" secara literalnya wujud dalam al-Qur'an. Namun, dalam berijtihad seseorang ilmuwan tidak boleh hanya bersandarkan kepada makna literal teks atau nas tetapi perlu juga melihat kepada maqasid dan falsafah yang mendasarinya sebagaimana telah ditegaskan oleh al-Shatibi.

Persoalan nama Allah tidak boleh dilihat dari sudut fiqh sahaja khususnya kerana ia menyangkut aqidah. Ia mesti melibatkan kepakaran dalam bidang falsafah Islam, dan lebih spesifik metafizik Islam dan epistemologi Islam. Dalam perbualan peribadi dengan seorang tokoh pemikiran Islam, Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, beliau memberitahu dan menyambung hujah Prof S.M.N al-Attas bahawa al-Qur'an telah merubah dan memperbaiki kekeliruan dan kerusakan yang telah terjadi kepada hakikat-hakikat penting yang berkisar di sekitar ketuhanan, kemanusiaan dan kejadian. Dalam hal ini yang terjadi ialah proses Islamisasi terutama tentang hakikat ketuhanan yang merupakan tiang seri agama Islam. Menurut beliau lagi sekarang ini yang kelihatan sedang berlaku ialah proses deislamisasi dengan membawa makna-makna yang asing dan berlawanan dengan aqidah dan pandangan alam Islam, samada aliran-aliran sekular atau dari agama-agama lain.

Prof Wan Mohd Nor juga berkata setiap istilah dalam semua bahasa mempunyai batas-batas makna yang sah yang mencerminkan pandangan alam tertentu, dan yang membezakan sesuatu istilah itu dengan yang lain. Persamaan yang banyak pun masih memerlukan istilah atau nama yang berbeza jika terdapat hanya satu perbezaan yang penting.


Sebab itulah semua bahasa-bahasa yang tinggi mempunyai kamus. Keldai, kuda, baghal banyak persamaan tetapi terdapat perbezaan; dua manusia kembar siam juga diberi nama yang berbeza. Orang bukan Islam boleh mempekayakan kamus peristilahan Bahasa Melayu dengan menggunakan nama lain bagi Tuhan mereka. Dalam konteks Kristian, mereka boleh gunakan Tuhan, Dewata, Deus, Theos, atau God. Selama ini gereja, kuil, sami, paderi, uskup dan lain telah memperkayakan Bahasa Melayu dan tidak menimbulkan kekeliruan dan kemarahan masyarakat yang beragama lain. Di sini jelaslah bahawa seseorang yang bercakap tentang persoalan aqidah mesti faham kaitannya dengan worldview, tasawur dan pemikiran Islam. Dalam hal ini, aqidah tidak hanya bermakna kepercayaan dan keimanan dalam ertikata yang sempit seperti biasa difahami oleh masyarakat umum, namun ia adalah satu set keyakinan yang dapat memberi kesan kepada cara berfikir (worldview) dan cara hidup (way of life) seseorang Muslim.

Kita juga perlu berfikir mengapa kaum Katolik ingin menggunakan nama Allah? Kita tidak boleh tertipu dengan hujah persamaan nama yang bagi sesetengah orang hanya bersifat luaran. Kita tahu pada hakikatnya nama Tuhan mereka bukan Allah. Nama Allah mungkin relevan bagi penganut Kristian di negeri-negeri Arab tetapi tidak di selain negeri Arab. Oleh itu jelas terdapat agenda yang tersembunyi yang tidak boleh luput dari perhatian umat Islam. Isu ini juga dibangkitkan dengan memanfaatkan toleransi dan dialog antara agama yang semakin mendesak ketika ini.

Tindakan membiarkan pihak Kristian menggunakan kalimat Allah bukan satu toleransi tetapi satu penggadaian hak dan kedaulatan. Ia adalah satu kerugian yang besar dan kelemahan yang nyata apabila umat Islam membiarkan penganut agama lain mendangkalkan konsep dan istilah penting dalam Islam. Perkataan Allah, solat, tawhid, rasul, bahkan istilah Islam itu sendiri membawa makna yang tersendiri setelah diislamisasikan. Kalimat-kalimat ini telah menjadi bahagian penting daripada pandangan sarwa Islam (Islamic worldview). Jika ia dikaburkan maka sudah tentu akan memberi kesan kepada pemikiran dan aqidah umat Islam.

Sesiapa pun yang ingin memahami persoalan ini perlu sedar bahawa beberapa istilah keagamaan tertentu telah menjadi 'milik' umat Islam. Sebarang tindakan meng-'import' nya boleh dianggap sebagai penyalahgunaan dan pencabulan terhadap agama Islam. Istilah-istilah keagamaan mesti dihormati, dari agama manapun ia datang, oleh penganut agama lain. Toleransi mungkin berlaku jika wujud penghormatan terhadap agama lain. Nama dan istilah tertentu seperti Pope, Paderi (priest), Sami (Monk) dalam agama-agama tertentu tidak boleh digunakan sewenang-wenang oleh penganut agama lain. Ini bukan sahaja kerana ia telah sinonim dengan agama penggunanya tetapi juga kerana kalimat ini telah diwarnai atau mengandungi pandangan sarwa penggunanya.

Oleh itu tindakan Kementerian Dalam Negeri pada 31 Disember 2007 melarang penggunaan nama Allah dalam surat khabar Herald adalah tindakan tepat dan positif yang bermakna bagi umat Islam. Ia perlu disokong dan orang-orang agama tidak sepatutnya mengeruhkan lagi keadaan. Umat Islam mesti mempertahankan nama Allah untuk tidak digunakan oleh orang bukan Islam selagi termampu. Masyarakat Islam di negeri-negeri Arab tidak mempunyai kemampuan untuk mempertahankan hal ini kerana ia berlaku secara halus dan di luar kawalan mereka. Kebelakangan ini tampaknya ketidaksepakatan orang Islam dalam hal ini telah membuka ruang kepada Herald Tribune untuk menggugat keputusan Kementerian tersebut.

Maka dapat disimpulkan bahawa jika dilihat dari sudut falsafah dan pemikiran, dan bukan hanya dari sudut fiqh, kita akan melihat bahawa nama memberikan seribu makna. Jauhnya perbezaan antara Allah dengan Tuhan ibarat langit dengan bumi. Jelaslah isu ini bukan isu perebutan nama tetapi isu yang menyangkut jantung aqidah. Ia juga berkaitrapat dengan pendangkalan makna Allah untuk menjustifikasikan pluralisme agama. Kita tidak boleh membiarkan pendangkalan makna tersebut berlaku tanpa penolakan umat Islam. Adalah menjadi tanggungjawab semua ilmuwan Islam untuk menentang segala usaha mendangkalkan makna dalam Islam.

*Penulis adalah Felo Penyelidik ATMA (Institut Alam dan Tamadun Melayu), UKM.
Sumber : Dr Asmadi Mohamed Naim
Bacaan Tambahan :

40 HADITH POPULAR PALSU YANG PALSU

Buku ini telah tersebar di pasaran. Diterbitkan oleh PTS. Dan menurut penulis buku ini bahawa hadith yang didedahkan di dalam bukunya kesemuanya darjatnya adalah PALSU.

Adakah pendedahan penulis ini benar keseluruhannya ? Marilah kita sama-sama menelusuri hadith-hadith yang dihukum sebagai palsu di dalam buku terbitan PTS di atas :

Hadis 1 : Menuntut Ilmu Sehingga ke China :

Jawapan : Hadith ini bukanlah palsu bahkan mencapai darjat hasan dan juga darjat dhoief. Penjelasannya di sini : Status hadith : Tuntulah Ilmu Hingga Ke Negeri China

« اطلبوا العلم ولو بالصين ، فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم » “ Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, karena sesungguhnya menuntut ilmu sangatlah wajib atas setiap orang muslim”.

Nash di atas adalah matan dari hadits dhoif tetapi diriwayatkan melalui banyak sanad, di antaranya Imam Baihaqi dalam kitab syi’bul iman. Ahli hadits menyatakan di antara perowi hadits tersebut adalah Abu ‘Atikah yang dikatakan oleh ulama’ hadits sebagai perowi dhoif, sehingga muncul banyak pendapat dalam menilai hadits ini sebagai hadits dhoif, bathil atau tidak bersanad. Namun demikian, menurut al-hafidh al-Mazi : karena hadits ini memiliki banyak jalan (sanad), maka dari dhoif naik ke derajat hasan lighoirihi. Oleh karena itu tidak boleh bagi kita mengatakan bahwa itu bukan hadits.

شعب الإيمان للبيهقي – (4 / 174)

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ، أخبرنا أبو الحسن علي بن محمد بن عقبة الشيباني ، حدثنا محمد بن علي بن عفان ، ح وأخبرنا أبو محمد الأصبهاني ، أخبرنا أبو سعيد بن زياد ، حدثنا جعفر بن عامر العسكري ، قالا : حدثنا الحسن بن عطية ، عن أبي عاتكة ، – وفي رواية أبي عبد الله – حدثنا أبو عاتكة ، عن أنس بن مالك ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « اطلبوا العلم ولو بالصين ، فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم » « هذا حديث متنه مشهور ، وإسناده ضعيف » وقد روي من أوجه ، كلها ضعيف

جامع الأحاديث – (5 / 2)

اطلبوا العلم ولو بالصين فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم (العقيلى ، وابن عدى ، والبيهقى فى شعب الإيمان ، وابن عبد البر عن أنس) أخرجه العقيلى (2/230 ، ترجمة 777) ، وابن عدى (4/118 ، ترجمة 963) كلاهما فى ترجمة طريف بن سلمان أبو عاتكة . والبيهقى فى شعب الإيمان (2/253 ، رقم 1663) ، وقال : هذا الحديث شبه مشهور ، وإسناده ضعيف ، وقد روى من أوجه كلها ضعيفة . وأخرجه ابن عبد البر فى العلم (1/9) . وأخرجه أيضاً : الخطيب (9/363) ، وأورده ابن الجوزى فى الموضوعات (1/347 ، رقم 428) . قال العجلونى (1/154) : ضعيف بل قال ابن حبان : باطل . وذكره ابن الجوزى فى الموضوعات ، ونوزع بقول الحافظ المزى : له طرق ربما يصل بمجموعها إلى الحسن ، وبقول الذهبى فى تلخيص الواهيات : روى من عدة طرق واهية وبعضها صالح ، ورواه أبو يعلى عن أنس بلفظ : اطلبوا العلم ولو بالصين فقط ، ورواه ابن عبد البر أيضاً عن أنس بسند فيه كذاب .

مسند البزار – (1 / 55(

وَحَدِيثُ أَبِي الْعَاتِكَةِ : اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ لاَ يُعْرَفُ أَبُو الْعَاتِكَةِ وَلاَ يُدْرَى مِنْ أَيْنَ هُوَ ، فَلَيْسَ لِهَذَا الْحَدِيثِ أَصْلٌ. قواعد التحديث من فنون مصطلح الحديث – (1 / 66( وفي عون الباري نقلاً عن النووي أنه قال ((الحديث الضعيف عند تعدد الطرق يرتقى عن الضعف إلى الحسن ويصير مقبولاً معمولاً به))

قواعد التحديث من فنون مصطلح الحديث – (1 / 77(

الخامسة قولهم هذا الحديث ليس له أصل أو لا أصل له قال ابن تيميه معناه ليس له إسناد

قواعد التحديث من فنون مصطلح الحديث – (1 /86(

الثامن المشهور وهو ماله طرق محصورة بأكثر من اثنين سمى بذلك لوضوحه ويطلق على ما اشتهر على الألسنة فيشمل ماله إسناد واحد فصاعداً بل مالا يوجد له إسناد أصلا (كذا في النخبة) وما اشتهر على الألسنة أعم عن اشتهاره عند المحدثين خاصة أو عندهم أو

عند العامة مما لا أصل له شرح إختصار علوم الحديث – (1 / 363(

والشهرة أمر نسبي، فقد يشتهر عند أهل الحديث، أو يتواتر ما ليس عند غيرهم بالكلية ، ثم قد يكون المشهور متواترا أو مستفيضا، وهذا ما زاد نقلته على ثلاثة، وعن القاضي الماوردي أن المستفيض أكثر من المتواتر، وهذا اصطلاح منه، وقد يكون المشهور صحيحا كحديث: الأعمال بالنيات وحسنا، وقد يشتهر بين الناس أحاديث لا أصل لها، أو هي موضوعة بالكلية، وهذا كثير جدا

Sumber : Http://www.Forsansalaf.Com

Hadis 3 : Nabi Kota Ilmu dan Ali Pintunya

Hadis ini tidak palsu. Bahkan, banyak ulama' menilai hadis ini sebagai hasan seperti Sheikh Ahmad As-Siddiq Al-Ghumari. Sebahagiannya menilai hadis ini dha'if. Tetapi, tidak sampai tahap maudhu'.

Hadis 9 : Kelebihan Solat Terawaih .

Memang yang selalu kita dengar tentang kelebihan solat terawih pada setiap malam tu ada yang palsu. Namun ada juga hadith sahih yang menyatakan kelebihan solat terawih. Penjelasannya di sini : Fadhilat-fadhilat Sahih Solat Terawih

Hadis ke-15: " kita pulang dr jihad yg kecil kepd jihad yg besar".Para sahabat bertanya:"apakah jihad yang paling besar?"Nabi Muhammad menjawab:"Jihad hati( memerangi hawa nafsu)"

Hadith ini juga bukan palsu bahkan sanadnya adalah sahih. Penjelasannya di sini : Status hadith : Jihad Al Akbar - Memerangi Hawa Nafsu

Hadis 16 : Perselisihan Adalah Rahmat

Hadith ini juga bukan palsu. Sudah dijelaskan oleh Ustaz Nazrul Nasir : Perselisihan Adalah Rahmat

Takhrij Hadith : Al Allamah Al Minawi ketika mentakhrij hadith ini dalam kitab beliau, Faidhul al Qadir Jilid 1, m/s 212 menyatakan : [As Subki berkata : Hadith ini tidak diketahui oleh para muhaddisin. Aku tidak menemui sanadnya yang sahih, dhoief mahupun maudhu'] - Lihat perkataan ulamak yang wara' tidak mudah terus menyatakan PALSU.

As Sayuti berkata: BOLEH JADI ia diriwayatkan dalam sesetengah kitab para penghafal hadith yang tidak sampai kepada kita. - Lihat akhlak ulamak yang berkredibiliti dan tidak bermudah menghukum PALSU secara semberono hanya kerana ia tidak mengetahui sanadnya.

Albaihaqi dalam kitab al Madkhal dan ad Dailami dalam Musnad al Firdaus menyatakan isnadnya. Kedua-duanya daripada hadith marfu' Ibnu Abbas dengan lafaz : "Perselisihan para sahabatku adalah rahmat". Perselisihan sahabat sama dengan perselisihan Umat. Akan tetapi al Hafiz Al Iraqi berkata : Sanad ini dhoief. Anak beliau Abu Zar'ah seorang pentahqiq berkata : Ia juga diriwayatkan oleh Adam bin Abi Ilyas dalam kitab al 'ilmi wal hilm dengan lafaz : "Perselisihan para sahabatku adalah rahmat". Hadith ini mursal dhoief. Dalam Tabaqot Ibnu Sa'ad daripada al Qasim bin Muhammad dinyatakan hadith seumpamanya]

Dr Yusof al Qardhawi ( Kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah baina Al-Ikhtilaf Al-Masyru' wa At-tafarruq Al-Madzmum) berpandangan hadith ini sahih pengertiannya. Pengertian hadith ini disokong oleh riwayat Darulqutni yang dianggap sebagai hadith hasan oleh Imam An Nawawi dalam kitabnya Matan al Arbai'en :


Sesungguhnya Allah Ta'ala meletakkan garis sempadan, janganlah kamu melampauinya. Dia mewajibkan perkara fardhu, janganlah kamu mensia-siakannya. Dia mendiamkan hukum bagi beberapa perkara sebagai rahmat kepada kamu dan bukannya lupa, janganlah kamu mencari-carinya.

Biasanya, perkara yang didiamkan oleh Allah menjadi sebab kepada perselisihan. Ini kerana ia membentuk ruang kosong dalam perundangan Islam. Setiap ulama akan cuba mengisinya berlandaskan asas-asas pengambilan hukum dan aliran sekolahnya. Ada yang mengambil jalan qiyas. Yang lain mengambil jalan istihsan, Yang ketiga mengambil jalan maslahat. Yang keempat berdasarkan 'uruf. yang lain pula berdasarkan Bara ah al Asliyyah.. dan sebagainya.

Hadis 17 : Syurga Di Bawah Tapak Kaki Ibu

Hadith ini bukan palsu. Sebab ada hadith yang bererti : Syurga itu di bawah tapak kaki ibu. Hassan sahih;diriwayatkan oleh an-nasai’e. Seorang sahabat bernama Jahimah ra datang menemui RasulluAlllah saw meminta pandangan baginda untuk dia ikt serta dalam ekspedisi berjihad.Rasullah saw bertanya: "adakah kamu ada ibu?"Jahimah menjawab : "Ya!" Lalu RasulluAllah saw bersabda:"tinggallah bersamanya kerana sesungguhnya syurga berada dibawah tapak kakinya".


Hadis 21 : Kelebihan Membaca Surah Yasin.

Tidak semua hadith mengenai kelebihan membaca Surah Yasin adalah palsu. Ada hadith sahih kelebihan membaca surah yasin.

Ibn Hibban dalam kitab sahihnya meriwayatkan hadith Jundab bin AbdiLLah, RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda yang bererti :



"Surah al Baqarah adalah tulang belakang al Quran, ia diturunkan oleh lapan puluh malaikat dengan membawa satu persatu ayat. Sedangkan ayat kursi diturunkan dari bawah Arsy'. kemudian ia dikumpulkan dengan ayat-ayat surah al Baqarah. Surah Yasin pula adalah hati al Quran, tidak ada orang yang membacanya dengan mengharap redha ALlah dan pahala akhirat melainkan dia akan mendapat ampunan dari-Nya. Bacalah surah Yasin untuk saudara-saudara kamu yang telah meninggal dunia."

(Ditakhrij oleh Ibn Hibban di dalam Kitab Sahihnya pada bab Fadhilat Surah al Baqarah. Demikian juga al Haithami meriwayatkannya di dalam kitab Mawarid al Dzam'an, (jilid V, h 397).

Imam Ahmad juga meriwayatkannya di dalam al Musnad dari Ma'qal bin Yasar (jilid v h 26). Al Haithami mengulas hadith tersebut di dalam kitab Majma' al Zawaid, "Hadith tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di dalamnya ada salah seorang perawi yang tidak disebut namanya, bagaimanapun perawi perawi lainnya adalah sahih (jilid VI h 311)

Rujuk : Prof Dr Sayyid Muhammad 'Alawi Al Maliki Al Hasani, Kajian Mendalam ke Atas Manfaat Amalan Orang Hidup Terhadap Arwah, Tahqiq al amal fi ma yan fa'u al mayyitu min al a'mal, Jahabersa, 2007, Johor

Hadis 22 : Yasin Hati Al-Quran

Ini bukan hadith palsu

Daripada Anas RadiyaLlahu 'anhu :


قال النبي صلى الله عليه وسلم : إن لكل شيء قلبا و قلب القرأن يس و من قرأ يس كتب الله له بقراءتها قراءة القراءن عشر مرات

Sabda Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam :

"Sesungguhnya bagi tiap-tiap sesuatu itu ada jantung, dan jantung al Quran ialah Yasin. Dan sesiapa yang membaca Yasin, akan dituliskan Allah baginya dengan membacanya pahala seumpama membaca al Quran sepuluh kali"

(Riwayat at Tirmizi dan ad Darimi)

Menurut Imam at Tirmizi darjat hadith ini adalah hasan gharib. Ia telah diriwayatkan oleh lima orang sahabat radiyaLlahu anhum iaitu Abu Bakar as Siddiq, Anas r.a, Abu Hurairah r.a, Ubay bin Kaab r.a dan Ibn Abbas radiyallahu anhuma. Maka dari segi istilah ia bilangan yang cukup menjadi hadith mahsyur. (Rujuk Majalah Q & A Bil 3, m/s 76-77. Dijelaskan oleh Ustaz Mohd Khafidz Bin Soroni (Jabatan Hadith KUIS))

Hadis 27 : Menyapu Muka Selepas Solat

Dijelaskan oleh Ustaz Ayman Akiti : di dalam kitab berjudul al-Hujjaj al-Qath'iyyah fi Shihhah al-Mu'taqadat wa al-Amaliyyah al-Nahdliyyah, Page 66: Adanya Rasulullah SAW itu mengusap wajahnya dengan kedua belah tangannya setelah setiap kali doa.

Telah terdapat di dalam sebagian Hadis-Hadis seperti berikut: عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْه diceritakan dari al-Saib bin Yazid dari Bapaknya bahawa Nabi SAW adanya beliau ketika berdoa mengangkat kedua belah tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kedua belah tangan. (Riwayat Sunan Abu Daud, no. 1275)

Begitu juga disunnahkan bagi orang yang telah solat untuk mengusap wajahnya dengan kedua belah tangannya, kerana sesungguhnya solat secara bahasa adalah doa, kerana terkandung di dalamnya beberapa doa kepada Allah Yang Menjadikan Mahasuci-Nya Ta'ala. Maka barangsiapa solat maka dia benar-benar telah berdoa kepada Allah azza wajalla. Maka yang kukuh dengan ini, disunnahkan bagi orang tersebut untuk mengusap wajahnya setelah setiap kali solat. Berkata Imam Nawawi di dalam Kitab al-Azkar:

وروينا في كتاب ابن السني ، عن أنس رضي الله عنه ، قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى ، ثم قال : أشهد أن لا إله إلا الله الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الهم والحزن

Dan aku meriwayatkan di dalam kitab Ibn al-Sinni dari Anas RA. berkata: Adanya Rasulullah SAW ketika selesai solatnya, beliau mengusap dahinya dengan tangannya yang kanan lalu berdoa: "Aku bersaksi bahawasanya tidak ada tuhan kecuali Dia Zat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, YA Allah, hilangkanlah dariku kesusahan dan kesedihan" (al-Azkar, 69).

Maka jadilah perkara tersebut sebagai dalil bahwa sesungguhnya mengusap wajah itu disyariatkan di dalam agama, dengan pengetahuan bahwasanya Nabi SAW juga mengamalkannya. Penjelasannya ada di sini : Hukum Mengusap Wajah Selepas Solat

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sudah jelas buku di atas amat bermasalah dan melakukan jenayah ilmiyyah dalam hadith yang amat dahsyat sekali. Kepada asatizah/para pelajar/ibu ayah agar berhati-hati dalam membeli buku agama di pasaran. Apa akan jadi kepada anak-anak kita pada masa akandatang yang membentuk masyarakat dan Umat Islam apabila didedahkan dengan penulis yang mengelirukan umat Islam dan melakukan jenayah Ilmiyyah samada dalam perkara aqidah dan hukum hakam ?

Tolong sebar-sebarkan sebagai langkah mengajak kepada perkara kebaikan dan mencegah kemungkaran. Wallahu'alam

ADAB BERBICARA KEPADA MUSLIMAH,

Adab berbicara bagi Muslimah




Wahai saudariku muslimah………



1) Berhati-hatilah dari terlalu banyak berceloteh dan terlalu banyak berbicara, Allah Ta'ala berfirman:



” لا خير في كثير من نجواهم إلا من أمر بصدقة أو معروف أو إصلاح بين الناس ” (النساء: الآية114).



Artinya:



"Dan tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia ". (An nisa:114)



Dan ketahuilah wahai saudariku,semoga Allah ta'ala merahmatimu dan menunjukimu kepada jalan kebaikan, bahwa disana ada yang senantiasa mengamati dan mencatat perkataanmu.



"عن اليمين وعن الشمال قعيد. ما يلفظ من قولٍ إلا لديه رقيب عتيد ” (ق: الآية 17-18)



Artinya:



"Seorang duduk disebelah kanan,dan yang lain duduk disebelah kiri.tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir" (Qaaf:17-18).



Maka jadikanlah ucapanmu itu menjadi perkataan yang ringkas, jelas yang tidak bertele-tele yang dengannya akan memperpanjang pembicaraan.



2) Bacalah Al qur'an karim dan bersemangatlah untuk menjadikan itu sebagai wirid keseharianmu, dan senantiasalah berusaha untuk menghafalkannya sesuai kesanggupanmu agar engkau bisa mendapatkan pahala yang besar dihari kiamat nanti.



عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما- عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” يقال لصاحب القرآن: اقرأ وارتق ورتّل كما كنت ترتّل في الدنيا فإن منزلتك عند آخر آية تقرؤها رواه أبو داود والترمذي



Dari abdullah bin ‘umar radiyallohu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, beliau bersabda:



dikatakan pada orang yang senang membaca alqur’an: bacalah dengan tartil sebagaimana engkau dulu sewaktu di dunia membacanya dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.



HR.abu daud dan attirmidzi



3) Tidaklah terpuji jika engkau selalu menyampaikan setiap apa yang engkau dengarkan, karena kebiasaan ini akan menjatuhkan dirimu kedalam kedustaan.



عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” كفى بالمرء كذباً أن يتحدّث بكل ما سمع “



Dari Abu hurairah radiallahu 'anhu,sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta ketika dia menyampaikan setiap apa yang dia dengarkan."



(HR.Muslim dan Abu Dawud)



4) jauhilah dari sikap menyombongkan diri (berhias diri) dengan sesuatu yang tidak ada pada dirimu, dengan tujuan membanggakan diri dihadapan manusia.



عن عائشة – رضي الله عنها- أن امرأة قالت: يا رسول الله، أقول إن زوجي أعطاني ما لم يعطني؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” المتشبّع بما لم يُعط كلابس ثوبي زور “.



Dari aisyah radiyallohu ‘anha, ada seorang wanita yang mengatakan:wahai Rasulullah, aku mengatakan bahwa suamiku memberikan sesuatu kepadaku yang sebenarnya tidak diberikannya.berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,: orang yang merasa memiliki sesuatu yang ia tidak diberi, seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan."(muttafaq alaihi)



5) Sesungguhnya dzikrullah memberikan pengaruh yang kuat didalam kehidupan ruh seorang muslim, kejiwaannya, jasmaninya dan kehidupan masyarakatnya. maka bersemangatlah wahai saudariku muslimah untuk senantiasa berdzikir kepada Allah ta'ala, disetiap waktu dan keadaanmu. Allah ta'ala memuji hamba-hambanya yang mukhlis dalam firman-Nya:



” الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم… ” (آل عمران: الآية 191).



Artinya:



"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring…" (Ali imran:191).



6) Jika engkau hendak berbicara,maka jauhilah sifat merasa kagum dengan diri sendiri, sok fasih dan terlalu memaksakan diri dalam bertutur kata, sebab ini merupakan sifat yang sangat dibenci Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, dimana Beliau bersabda:



” وإن أبغضكم إليّ وأبعدكم مني مجلساً يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون “.



"sesungguhnya orang yang paling aku benci diantara kalian dan yang paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat : orang yang berlebihan dalam berbicara, sok fasih dengan ucapannya dan merasa ta'ajjub terhadap ucapannya."



(HR.Tirmidzi,Ibnu Hibban dan yang lainnya dari hadits Abu Tsa'labah Al-Khusyani radhiallahu anhu)



7) Jauhilah dari terlalu banyak tertawa,terlalu banyak berbicara dan berceloteh.jadikanlah RasulullahShallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, sebagai teladan bagimu, dimana beliau lebih banyak diam dan banyak berfikir beliau Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,



menjauhkan diri dari terlalu banyak tertawa dan menyibukkan diri dengannya.bahkan jadikanlah setiap apa yang engkau ucapkan itu adalah perkataan yang mengandung kebaikan, dan jika tidak, maka diam itu lebih utama bagimu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, bersabda:



” من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت “.



" Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaknya dia berkata dengan perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam."



(muttafaq alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu)



8) Jangan kalian memotong pembicaraan seseorang yang sedang berbicara atau membantahnya, atau meremehkan ucapannya. Bahkan jadilah pendengar yang baik dan itu lebih beradab bagimu, dan ketika harus membantahnya, maka jadikanlah bantahanmu dengan cara yang paling baik sebagai syi'ar kepribadianmu.



9) Berhati-hatilah dari suka mengolok-olok terhadap cara berbicara orang lain, seperti orang yang terbata-bata dalam berbicara atau seseorang yang kesulitan berbicara.Alah Ta'ala berfirman:



” يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيراً منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خيراً منهن ” (الحجرات: الآية 11).



"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik."



(QS.Al-Hujurat:11)



10) Jika engkau mendengarkan bacaan Alqur'an, maka berhentilah dari berbicara, apapun yang engkau bicarakan, karena itu merupakan adab terhadap kalamullah dan juga sesuai dengan perintah-Nya, didalam firman-Nya:



: ” وإذا قرىء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون ” (الأعراف: الآية 204).



Artinya: "dan apabila dibacakan Alqur'an,maka dengarkanlah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian diberi rahmat". Qs.al a'raf :204



11) Bertakwalah kepada Allah wahai saudariku muslimah,bersihkanlah majelismu dari ghibah dan namimah (adu domba) sebagaimana yang Allah ‘azza wajalla perintahkan kepadamu untuk menjauhinya.



bersemangatlah engkau untuk menjadikan didalam majelismu itu adalah perkataan-perkataan yang baik,dalam rangka menasehati,dan petunjuk kepada kebaikan. perkataan itu adalah sebuah perkara yang besar,



berapa banyak dari perkataan seseorang yang dapat menyebabkan kemarahan dari Allah ‘azza wajalla dan menjatuhkan pelakunya kedalam jurang neraka. Didalam hadits Mu'adz radhiallahu anhu tatkala Beliau bertanya kepada NabiShallallahu Alaihi wa aalihi wasallam:



apakah kami akan disiksa dengan apa yang kami ucapkan? Maka jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:



” ثكلتك أمك يا معاذ. وهل يكبّ الناس في النار على وجوههم إلا حصائدُ ألسنتهم ” ( رواه الترمذي).



"engkau telah keliru wahai Mu'adz, tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka diatas wajah-wajah mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka."



(HR.Tirmidzi,An-Nasaai dan Ibnu Majah)



12- Berhati-hatilah -semoga Allah menjagamu- dari menghadiri majelis yang buruk dan berbaur dengan para pelakunya, dan bersegeralah-semoga Allah menjagamu- menuju majelis yang penuh dengan keutamaan, kebaikan dan keberuntungan.



13- Jika engkau duduk sendiri dalam suatu majelis, atau bersama dengan sebagian saudarimu, maka senantiasalah untuk berdzikir mengingat Allah ‘azza wajalla dalam setiap keadaanmu sehingga engkau kembali dalam keadaan mendapatkan kebaikan dan mendapatkan pahala. Allah ‘azza wajalla berfirman:



” الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم “. (آل عمران: الآية 191)



Artinya: "(yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri,atau duduk,atau dalam keadaan berbaring" (QS..ali 'imran :191)



14- Jika engkau hendak berdiri keluar dari majelis, maka ingatlah untuk selalu mengucapkan:



” سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك “.



"maha suci Engkau ya Allah dan bagimu segala pujian,aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat kepada-Mu"



Sehingga diampuni bagimu segala kesalahanmu di dalam majelis tersebut